Resah nan gelisah akan selalu hadir disaat segenggam hati terbuai gejolak rindu. Malampun akan terasa sunyi saat sihir cinta datang merasuk jiwa, menyulam raga menyelami lautan asmara. Karenanya, setetes darah-pun akan mengalir membentuk tinta pena lukisan hati, demi mengenang sebuah penghayatan yang terlahir dalam bias-bias keindahan.
Oh... desahku pada malam.
Apalah arti malam tanpa pesona purnama dan kemilau bintang tanpa bias cahayanya ? Apalah arti taman bunga tanpa warna - warni dan wangi kembang ? Apalah arti dunia tanpa rasa bahagia....
Ilusiku saat sekeping hati terpakut rindu dalam rona kelabu.
Pekatnya malam, kini mengajak hatiku mengenang kembali hadirnya dirimu, dengan seraut wajah yg selalu membayang. Dialah yang selalu hadir saat serangkaian hidup mengalami gundah nestapa. Kehadirannya membuatku menemukan arti hidup yang sebenarnya. Hadirnya dia telah membawa semangat baru dalam meniti perjalanan hidup ini. Sungguh aku bahagia saat dia menjelma dalam keseharianku.
Duh... malam
Mengapa batinku meronta ketika jauh darinya, tetapi ketika dirinya kembali hadir mengisi ruang waktuku, semua penyakit yang melekat dalam urat nadi, seakan sembuh tanpa satupun obat yang masuk ke dalam tubuh. Benarkah dia tabib yang selama ini kucari, ataukah dia yang kini mengisi senandung ruang sepiku. Ketika semua pekat yang mengundang resah nan gelisah kembali mengusik jiwa ?
Aku tak tahu tapi dia tahu, bahwa dirinya tidak pernah bergantung kepada siapa-siapa. Dia hadir kepadaku bukan karena rasa cinta, tetapi karena dia sebagai manusia biasa layaknya untuk selalu bertaaruf kepada sesamanya. Kembali pada malam aku berharap, agar dia tetap menjadi rembulanku ketika malam datang mencekam, dan sebagai matahariku saat siang hadir mengundang. Karena aku tidak bisa berbuat apa-apa, tanpa adanya seberkas bias kasihnya.
Dia adalah rembulan, mengapa malamku terang. Dia adalah mentari, mengapa pagiku bersemi. Dan dia adalah alasan, mengapa duniaku ada dan penuh warna.
Malam... ku bertalu kepadamu;
Mungkinkah saat ini aku tergolong orang yang mendamba akan cintanya, karena bagiku hanya cinta yang akan membawa manusia pada derajat yang lebih berarti. Dimana sebuah kehidupan akan terasa indah ketika cinta mewarnai keberadaannya. Namun, tidak jarang pula lantaran akibat virus cinta sebuah kehidupan yang mestinya indah penuh makna, malah menjadi ladang derita sepanjang masa. Ada yang mengatakan, Cinta itu menuntut orang untuk hidup bahagia, bukan untuk menderita. Kalau malah membuat susah bukan cinta namanya. Pendapat sebagian orang yang kurang memahami hakekat cinta yang sebenarnya.Nah, disinilah letak kesalahan interpretasi terhadap esensi cinta yang sebenarnya. Ketika sebagian manusia mengklaim cinta hanya sebagai kehindahan, Alias kesenangan semata. Terlepas dari itu, bukanlah artikulasi cinta. Padahal, cinta tidak dapat diprediksi hanya dengan sebuah pengalaman atau lewat berbagai macam sudut pandang. Cinta itu absolut, dalam artian tidak bisa diukur lewat pita sejarah. Benar ketika sang pujangga dari libanon, mengatakan Cinta tidak memiliki atau dimiliki, cinta telah cukup untuk cinta (Kahlil Gibran) Juga pepatah telah menuliskan; cintailah apa yang kau miliki, bukan memiliki apa yang kau cintai. Jadi, cinta itu tidak akan berujung kepada siapapun, kecuali pada dirinya sendiri.
Sebuah paradigma cinta yang sempat bergejolak dalam lubuk hati, membuatku kembali bertanya pada pekatnya malam ini. Benarkah saat ini diriku sedang jatuh cinta, ataukah hanya sebuah halusinasi yang mengusik hati.
Malam aku bertanya kepadamu, kenapa kamu hanya diam dalam seribu kebisuan. Apakah kamu tega membiarkan diriku terus-menerus terkurung waktu berjubah rindu. Aku membutuhkan jawabanmu, karena jawabanmu itu yang akan menjadi derap langkahku menghapus kidung resah nan gelisah di kalbu.
Pintaku pada malam. Aku sadar, bahwa saat ini hatiku benar-benar mendamba akan adanya nyanyian cinta yang didendangkan lewat suara merduanya. Jiwaku terasa damai saat suaranya terngiang dalam daun telinga. Batinku tentram ketika serambi malam bawa ukiran indah auranya. Seandainya malam ini dia hadir bawa sekeranjang cintanya, betapa bahagianya hatiku. Betapa kencangnya kerpakan sayapku untuk menyambutnya, bawa terbang bercumbu dengan rembulan dan memetik sang bintang yang bertaburan. Tapi, benarkah dia akan hadir malam ini ? Malampun hanya diam seolah tak mendengar rintihan hati yang sedang bertalu.
***
Kembali dalam kesendirianku berteman malam mengusir sepi, semua gelap. Tak ada terang, hanya selalu berharap bintang kecil bersinar benderang, dalam hitam kelam di balik atap awan. di mana sayang ?, di mana ???.. Bibir pun terkatup sebelum terdengar suara lainnya, ribuan tinta diantaraku. Berikan aku linangan bila tersadar.Aku ingin Sadar aku berucap terputus lilin asaku seakan redup dihempas gejolak rindu, teman senyum tak lagi hadir mengisi ruang sepiku
Malam-pun terus beranjak pulang dalam kebisuan sunyi, menyusuri tangga-tangga langit yang terbentang luas diatas ruas cakrawala. Seakan tiada rasa kasihan pada seorang insan yang sedang menikmati kemerlip bintang di angkasa. Seorang insan yang lagi dirundung rindu, menautkan resah nan gelisahnya pada malam, mencurahkan isi hatinya pada sang bintang. Tapi sang malam tidak menghiraukannya, dia tetap berjalan menuju cahaya yang akan mengisi kegelapan dunia. Dan kini yang kurasa hanyalah resah nan gelisah terus menyiksa disepanjang waktu.
Tuhan...Oooo Tuhan engkau selalu ada dalam hembusan nafasku.... engkau selalu ada untuk menolongku dari rasa resahku......

